Gunung Papandayan, West Java

“I like the mountains because they make me feel small,’ Jeff says. ‘They help me sort out what’s important in life” – Mark Obmascik

I couldn’t agree more. Mungkin kamu sering mendengar pertanyaan: Kamu lebih suka pantai atau gunung? Mungkin kamu punya jawaban sendiri, opini sendiri, terserah. Kalau saya, dari kecil saya selalu merasa kalau gunung lebih ramah dengan saya.

Tiap kali saya melihat gunung, saya merasakan kedamaian yang sangat hebat.

Tiap kali saya melihat gunung, saya merasa seperti sedang dipeluk.

Tiap kali saya melihat gunung, saya selalu merasa kecil tak berharga, merasa rendah diri, dan membuat saya bersyukur pada Tuhan.

Oh iya, sebelumnya saya sampaikan beberapa hal. Pertama, ini adalah perjalanan yang saya lakukan setahun yang lalu, sekitar awal April 2015. Kenapa saya baru tulis sekarang, karena saya belum punya kesempatan menulis, daaaan… memory card saya rusak, yang berarti foto-foto yang saya ambil di Papandayan HILANG SEMUA, jadi saya mengumpulkan remahan sisa foto-foto. Kedua, remahan foto saya ini saya ambil dari memori internal handphone dan album Facebook Hani, so some of these pictures are Hani’s dan mungkin kurang cukup menggambarkan Gunung Papandayan. Ketiga, karena perjalanan ini setahun yang lalu, jadi mungkin diceritakan seadanya tanpa detail berarti.

The heroes of the story:

  • Febriyara Ardhi Putra
  • Hani Permatasari
  • Medina Basaib
  • Vinne Aninda Putri

Waktu saya dan Febry melihat tanggal merah long weekend di bulan April 2015, kami memutuskan untuk melihat gunung. Officially, saya belum pernah mendaki gunung. Mungkin saya sudah pernah hiking kecil-kecilan, naik gunung bertangga (Bromo, Jabal Nur, dan semacamnya), atau naik gunung bertrack rapi beraspal (Gunung Ijen dan semacamnya). Jadi saya sangat mengantisipasi dakian pertama saya. Karena saya belum pernah naik gunung, kami pilih gunung yang medannya ringan, yaitu Gunung Papandayan, apalagi Gunung Papandayan berada di Garut, Jawa Barat, yang cukup dekat dengan Jakarta.

Karena tidak mau berdua saja (saya pikir masih tabu wanita dan pria jalan berdua saja, hehe, ya saya cukup kolot..), saya ajak beberapa teman saya dan teman Febry, dan akhirnya Hani dan Vinne ikut bergabung di formasi, juga Nanda dan Sigit. Tapi menjelang hari H Nanda dan Sigit tidak bisa ikut, jadi hanya kami berempat yang akan pergi.

Kamis, 2 April 2015

Persiapan demi persiapan kami lakukan, mengumpulkan alat dan makanan, dan akhirnya tiba hari H, hari Kamis malam, kami akan berangkat ke Garut via bus Primajasa dari Cililitan. Kami berkumpul di Sarinah untuk kemudian naik TransJakarta ke Cililitan, jam pulang kantor. Sekitar pukul 20.00, kami berangkat dan tiba di pool Cililitan sekitar pukul 21.00. Di pool Cililitan, bus berangkat secara berkala sampai pukul 22.30. Sampai di sana, keadaan sangat ramai, sampai takut tidak dapat bus, tapi karena armadanya banyak, tenang saja. Maklum, long weekend. Daftar dulu sampai dapat nomor, nanti ketika nomor kamu dipanggil, kamu langsung masuk bus. Kami menunggu cukup lama, mungkin hampir sejam sampai akhirnya kami naik bus dan berangkat. Biaya naik Primajasa sekitar Rp52.000,00, dan bayar di bus ketika sudah berangkat.

Jumat, 3 April 2015

Kami tiba di Terminal Guntur, Garut, esok paginya. Jangan kaget dengan hecticnya Terminal Guntur di pagi hari, banyak pedagang, banyak angkot, ojek, pasar, tempat makan, dan lain-lain. Keluar dari bus, kami mampir sarapan dulu di tempat makan yang ada toilet umumnya, di sana kami ganti baju dan sepatu, mandi atau cuci-cuci. Untuk urusan transportasi dan tawar menawar, kami serahkan ke Febry karena dia memang orang Bandung keturunan Garut dan bisa bahasa Sunda. Selama kami turun, makan, dan beli minum, kami ditawari transportasi, dan setelah bernegosiasi dan diskusi, kami meneruskan perjalanan ke kaki gunung Papandayan dengan angkot yang sudah dicharter bersama beberapa pendaki lain. Saya lupa bayar berapa :p

Setelah berkeliling kota Garut, kami sampai di jalan dengan gapura bertuliskan pintu masuk Gunung Papandayan. Setelah turun, jangan kaget dengan banyaknya bapak-bapak yang menawarkan jasa pick up dan ojek untuk naik ke kaki gunung Papandayan. Berhubung jumlah kami tidak terlalu banyak, jadi kami rasa pick up terlalu mahal, sehingga kami memilih untuk meneruskan perjalanan dengan ojek. Lagi-lagi saya lupa berapa, tapi sepertinya akan lebih murah naik pick up JIKA banyak orang. Saat itu hanya ada 3 orang lain, jadi jika kami bertujuh akan lebih mahal. Sebenarnya kalau kamu mau persiapan naik gunung, jalan kaki juga bisa, tapi rada jauh, naik motor saja bisa 20 menit..

Sampai di pos pendaftaran, saya ingat sekali tepat ketika Adzan Dzuhur, sekitar jam 12. Hari itu hari Jumat, jadi Febry mau tidak mau ketinggalan sholat Jumat. Setelah mengurus surat-surat dan bayar masuk sekitar Rp10.000,00, kami mulai pendakian. OFF WE GO!!

Di awal pendakian, jalan dipenuhi batu.. Sepanjang perjalanan, kami disuguhi dengan pemandangan seperti ini

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Bukan, bukan orang foto, tapi jalan berbatu dengan bukit-bukit hijau berbatu. Foto pemandangannya terhapus :”( Anyway, jalur pendakiannya cukup landai, sehingga mudah didaki oleh segala umur.

Pemandangan seperti ini terus kami temui hingga tiba di kawah Papandayan. Saya lupa, tapi rasanya saya tidak terlalu banyak melihat hijau-hijau lagi, layaknya berada di kawasan kawah berbatu. Ya, bau dan asap belerang cukup pekat, hingga kami memakai masker di kawah itu. Kawasan berbatu dan kawah sudah kami lewati, lagi-lagi kami disuguhi dengan pemandangan bukit-bukit hijau dan tebing. Kami melewati banyak tebing yang indah, hingga kami sempatkan untuk duduk dan tiduran di kawasan berrumput dengan pemandangan tebing dan bukit. Oh iya, di sana kami bertemu dengan 3 orang pendaki (sebut saja Ari, Ira, dan Rai) yang akhirnya mendaki bersama. Daerah kami istirahat tidak banyak dilalui orang, jadi rasanya hanya ada kami di sana.

Setelah kami rasa cukup, kami jalan lagi, mendaki lagi.

Mendaki gunung, melewati lembah, sungai mengalir indah ke samudera.

Awan sudah mulai menggelap dan meneteskan rintiknya sekitar pukul 17.00. Mungkin bisa lebih cepat jika kamu mendaki dengan serius. Untung kami sudah hampir sampai di area perkemahan, Pondok Saladah. Kami menggunakan jas hujan, dan selagi Febry dan Rai cek dan tek tempat tenda di Pondok Saladah, kami duduk. Cukup banyak orang, tapi kami mendapatkan tempat berkemah yang cukup enak. Ditemani hujan ringan, kami memasang tenda dan selesai menjelang Maghrib. Makanan rasanya nikmat sekali setelah mendaki. Kami tidak terlalu berniat untuk jalan-jalan, karena gelap dan hujan. Ditambah ada babi hutan besar yang sempat melewati area tenda kami. Kami hanya berjalan-jalanΒ  di sekitar tenda.

Malam cukup dingin, sehingga saya sempat terbangun gelisah. Di luar sepertinya masih banyak suara orang.

Sabtu, 4 April 2015

Pagi di Pondok Saladah, adalah pagi yang cukup dingin. Pondok Saladah adalah ruang yang memang disiapkan untuk area perkemahan. Areanya luaaas dan ada warung, juga toilet umum. Tapi toiletnya ngaaaaannnntttrrrriiiiiii.. Akhirnya saya memutuskan untuk buang air kecil di semak-semak saja nanti..

Kami berjalan ke hutan mati, mungkin sekitar setengah jam dari Pondok Saladah. Hutan mati adalah kawasan hutan yang mati karena terbakar ketika Gunung Papandayan meletus. Hanya bersisa dahan dan ranting kaku yang cukup terlihat menyeramkan di atas tanah abu-abu tandus.

11147097_943641175686518_4621183484230710291_n

Dari angle tertentu, tempat ini sangat instagram-able kok πŸ™‚

Kami lanjut lagi perjalanan ke Tegal Alun, semi-puncak Gunung Papandayan. Medan ke Tegal Alun berragam, ada yang sangat terjal, ada yang biasa. Yang biasa pun sebenarnya tidak begitu ringan, karena jalanan sangat berbatu dan batunya besar-besar, sehingga kami harus mendaki batu. Hati-hati di sini.

Dari Hutan Mati ke Tegal Alun mungkin sekitar 2 jam, mungkin kami sampai di Tegal Alun sekitar pukul 10.00. Mau tahu Tegal Alun seperti apa?

Ladang Edelweiss!

Saya baru pernah ke ladang edelweiss, dan meskipun saat itu edelweiss tidak sedang dalam puncaknya, kami cukup tertegun oleh bunga-bunganya.. Tegal Alun sangat luas, sehingga tiap kami duduk di beberapa spot di sana, berrasa hanya ada kami saja. Di sana kami masak brunch yang lagi-lagi mie campur pilus. Lagi-lagi, makanan terasa sangat nikmat πŸ™‚

Saya selalu punya ritual sendiri tiap memandangi alam; memandangi pemandangan sambil mendengarkan lagu dan alam bergantian. Sangat tenang..

IMG_20150405_095813

Processed with VSCOcam
Saya sangat suka foto ini, karena pose kami semua sangat random, tidak ada yang seirama.

Setelah puas foto-foto, ngobrol, dan menikmati alam, kami turun lagi ke Pondok Saladah. Ketika kami turun, banyak orang yang mau naik ke atas, sehingga jalur yang sempit itu sempat macet dan ada buka tutup jalan (ya, seperti ke Puncak, Bogor).

Sampai di Pondok Saladah, kami istirahat sebentar dan siap-siap untuk turun setelah makan siang. Jalur turun cukup licin akibat hujan kemarin, sehingga harus ekstra hati-hati jika menginjak tanah. Di perjalanan turun pun kami ditemani oleh hujan ringan, sehingga lagi-lagi kami harus mengenakan jas hujan.

Tidak terasa, sudah hampir maghrib lagi ketika kami sampai di kaki gunung Papandayan. Hujan masih rintik-rintik, menambah gelapnya medan perjalanan turun.

Jalanan di Gunung Papandayan memang berbatu dan keras, tapi jika kamu menikmatinya, di ujung perjalanan selalu ada hadiah yang menunggu. Ketika kami naik, meskipun tak mudah, kami dibayar oleh pemandangan yang indah. Ketika kami turun, kami dihadiahi sebuah pelangi πŸ™‚

IMG_20150514_193330

Tiba di kaki gunung langit sudah gelap. Hujan ringan juga masih mengguyur. Kami beserta pendaki lain menaiki pick up untuk turun ke kota Garut. Mungkin saat itu ada sekitar 15 orang dalam satu pick up. Sampai di Kota Garut, kami naik angkot yang dicharter menuju terminal. Seingat saya cukup ada kendala dalam mencari bus pulang, tapi saya lupa apa. Yaaa, siap-siap saja untuk berbagai macam kondisi. Kami istirahat dulu di warung depan terminal, warung yang sama saat kami tiba kemarin. Kami mandi seadanya, lalu makan, dan akhirnya pulang ke Jakarta, ke terminal Kampung Rambutan. Sampai di Kampung Rambutan, sekitar pukul 02.30 pagi. IT’S A WRAP!

Terima kasih, Gunung Papandayan..

Things I’ve learned from this trip:

  • Selalu persiapkan berbagai kemungkinan, siapkan jas hujan.
  • Naik gunung itu menyenangkan, bahkan ketagihan!
  • Alangkah baiknya jika kita langsung menuliskan jurnal daripada harus ditunda sampai setahun

Signature food I’ve tried:

  • Sepertinya mie adalah makanan yang wajib dibawa. Tapi ternyata mie pakai pilus enak juga πŸ™‚

What I think about this trip:

Okay, I said it before, but I am going to say this one more time: Naik gunung bikin ketagihan! Apalagi jika kamu pergi bersama orang-orang terdekatmu.

Sedang mencari tahu tentang gunung selanjutnya,

Cheers!

Medina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s