Dikejar Monyet, Anjing, dan Hujan di Lombok

Music and Silence combine strongly, because music is done with silence, and silence is full of music” – Marcel Marceau

Apa yang akan kamu lakukan jika seketika kau menjadi buta dan tuli? Buta dan tuli dari unsur duniawi, sehari saja berdiam diri memuja nama Tuhan.

The heroes of the story:

  • Adzhahri Ahmad
  • Amarul Rizal
  • Chaeranny Rilinovia
  • Diego Christian
  • Fiqrie Hidayat
  • Medina Basaib

Mungkin itu rasanya ketika umat Hindu menjalankan ibadah Nyepi, mirip buta-tuli. Ya, mungkin di zaman yang sudah canggih ini tidak terlalu ekstrim seakan-akan buta dan tuli. Sensasi itulah yang ingin saya dan teman-teman rasakan, hingga akhirnya dibuatlah rencana pergi ke Bali dan Lombok part 2.

Awalnya kami berrencana untuk pergi ke Flores, tapi apa daya dengan waktu yang cukup mepet rasanya cukup sulit mengumpulkan pundi-pundi ke Flores. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Lombok dan Bali, meskipun sebelumnya sudah pernah, bisa dibaca di sini. Nyepi tahun 2017 jatuh pada tanggal 28 Maret, jadi kami berrencana untuk pergi ke Lombok dulu, baru ke Bali untuk turut merayakan Nyepi. Oh iya, karena saya cerita cukup detail, jadi post ini dibagi 2 – Lombok dan Bali – agar tidak kepanjangan.

Kami membeli tiket pesawat pulang pergi sekitar sebulan sebelum tanggal keberangkatan.

Jumat, 24 Maret 2017

Akhirnya hari yang kami tunggu-tunggu tiba juga! Rasanya sudah gak mood untuk kerja. Ciki, Fiqrie, dan Ara sudah cuti dari sehari sebelumnya sehingga mereka naik pesawat yang lebih awal dibanding saya, Ari, dan Diego. Hawa-hawa liburan sudah memanggil!

Kami bertiga janjian di Gambir pukul 4 sore, karena pesawat kami take off jam 8 malam. Dari Gambir kami naik Damri dan turun di terminal 1B. Saat akan check in, saya baru ingat sepertinya SIM saya ada di tas lain, sehingga saya tidak membawa kartu identitas apapun. E-KTP belum jadi karena kasus megakorupsi, SIM saya di tas lain, dan saya tidak berpikir perlu bawa kartu NPWP *face palm*

“Lo cuma bisa berdoa aja sih Med. Di sini amal lo diuji. Kalo lulus berarti amal lo baik, kalo nggak yaaa…….” , Diego mulai deg-degan

“Hahaha kalo gue ditolak yaa pulang deh, bye”, Medina dengan sok santai padahal takut

Ternyata amal saya selama ini baik. Saya sempat foto KTP saya di handphone, dan petugasnya mengikuti berita, sehingga memaklumi jika tidak punya KTP. Itu juga setelah pasang muka dan nada yang manis innocent bagai wanita rapuh yang ketakutan.

Anyway, akhirnya kami naik pesawat! Next stop, Lombok Praya!

Perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam 50 menit. Senang rasanya ketika menginjakkan kaki di tanah Lombok untuk kedua kalinya. Fiqrie, Ara, dan Ciki sudah siap menunggu dengan mobil sewaan.

Kruuuukkk”, bunyi perut yang meronta. Tapi di jam 11 malam kebanyakan restoran sudah tutup, jadi kami cukup sulit mencari tempat makan. Praya sangat gelap di malam hari. Jarang ada rumah di pinggir jalan, jarang ada lampu, serta banyak anjing berkeliaran.

Sedang asyik mobil berjalan, tiba-tiba mobil kami menabrak batu. Ari berkeras kalau apa yang kami tabrak tadi bukan batu, melainkan anjing, sedangkan Ara berkeras kalau apa yang kami tabrak adalah batu. Kami berenam berdebat cukup panjang apakah itu batu atau anjing. Saya dan Ari rasa itu anjing yang sedang tidur, karena tidak lama setelah kami tabrak, ada 3 anjing tiba-tiba bangun, melolong dan menggonggong ke mobil. 1 anjing bahkan mencoba mengejar kami. Yang lain mencoba untuk berpositive thinking kalau itu adalah batu.

Tips: Hati-hati jika menyetir malam-malam di Lombok, karena banyak anjing berkeliaran dan tidur tepat di tengah jalan.

Masih berkecamuk, kami memutuskan untuk makan di warung pinggir jalan yang menjual berbagai makanan. Di sana saya pesan nasi goreng. Sepanjang jalan kami melihat beberapa pemuda Lombok menggelar tikar di satu jalur mobil, dan kami baru tahu ternyata memang seperti itu cara lesehannya. Kami makan di atas tikar yang digelar di tengah jalan. Jadi cukup mencengangkan saat kami makan sangat dekat dengan truk-truk yang melintas di kanan-kiri. Saya sendiri sebagai orang yang cukup takut dengan anjing dan begal selalu waspada lihat depan belakang-kanan kiri, karena banyak sekali anjing dan pemotor yang lewat. Tiba-tiba ada 3 anjing datang dan mengendus mobil kami. Waduh jangan-jangan mereka anjing yang tadi menggonggong saat kami menabrak “batu”, mungkin semacam mafia di dunia per-anjing-an. 2 dari 3 anjing itu lalu seperti bertengkar. Mungkin mereka sedang berdebat apakah mereka akan menggigiti kami (mungkin hanya pikiran Medina yang takut anjing).

Begini kira-kira transkrip percakapan mereka:

Anjing A: *mengendus ban* Iya nih bos, mereka yang bunuh Jeki

Anjing B: Ayo kita habisi mereka!!!!

Anjing C: *melompat menghantam anjing B* Jangan gegabah! Belum tentu mereka sengaja. Lihat mukanya pada begitu!

Anjing A: Oke bos, yaudah yuk kita kuy

Akhirnya mereka pergi dan kami juga melanjutkan perjalanan ke penginapan, Maafkan kami ya doggy, awalnya kami mau kembali lagi untuk mengubur dengan proper, tapi kami takut malah kami dicabik-cabik anjing yang tadi mengejar kami 😦 Kami doakan kamu kok.

Penginapan kami, Sasak Lombok Bungalow, terletak di bagian selatan pulau Lombok. Kami memilih di sana karena kami berrencana untuk mengunjungi pantai-pantai dan bukit di daerah selatan.

Sasak Lombok Bungalow cukup nyaman untuk bermalam, surprisingly toiletnya bersih dan bagus meski temboknya dibiarkan tidak dicat dan meski ada kodok yang mengintip ketika kami mandi.

20170325_092702
Tampak luar
20170325_092532(1)
Tampak dalam

Kami sampai di penginapan sekitar jam 1 malam, dan mulai istirahat pukul 2 malam. Kami berrencana untuk melihat sunrise di Tanjung Aan, jadi kami hanya punya waktu sekitar 2 jam untuk tidur.

Sabtu, 25 Maret 2017

Ya, saya tahu saya ingin lihat sunrise. Ya, saya juga dengar Fiqrie mengetuk pintu kamar saya dan Ciki. Tapi rasanya kasur sangat menggoda, hingga ketika saya bilang “iyaaaa yuk liat sunrise” ke Fiqrie, saya memutuskan untuk menutup mata lagi di kasur. Setelah ada suara mobil dan suara Ari marah-marah ke Diego, saya dan Ciki bersiap untuk keluar. Kami gak mandi dan gak ganti baju, bahkan sikat gigi pun mana kepikiran.

Berbekal Google Maps, destinasi pertama yang kami datangi yaitu pantai Tanjung Aan. Meski matahari sudah muncul sedikit, masih syahdu melihat pantai di pagi hari. Belum ada siapa-siapa di sana. Kecuali beberapa anjing yang mendatangi kami (yikes!)

IMG-20170331-WA0013(1)
Pantai di Tanjung Aan. Taken by Fiqrie

Pantainya bagus dan friendly, tapi mungkin karena matahari masih belum tinggi jadi belum terlalu cerah. Setelah puas sightseeing di Tanjung Aan, kami lanjut ke bukit Merese. Ada yang bilang juga ini bukit Teletubbies, karena dipenuhi hijau-hijau rerumputan. Pendakiannya tidak lama, hanya sekitar 5-10 menit untuk sampai puncaknya. Di sana juga belum ada siapa-siapa. Rasanya seperti bukit pribadi, setelah dari pantai pribadi!

Apa? Pemandangannya? 360° semuanya bagus, dan semakin ke atas semakin bagus!

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Rasanya ingin lari-lari dan bernyanyi seperti Maria di film The Sound of Music

Sound of Music (1965)Julie Andrews Credit: 20th Century Fox/Courtesy Neal Peters Collection.
Courtesy of hollywoodreporter.com

Saat sedang asyik-asyiknya berfoto dan menikmati indahnya alam Pulau Lombok, tiba-tiba datang satu monyet menghampiri. Entah bagaimana, dia bisa “mencium” bau makanan. Ara memang memegang plastik bungkus roti untuk dijadikan asbak, dan monyet itu mendekat ke Ara. Ara panik dan lari dari monyet itu. Semakin Ara lari, semakin dikejarlah dia. Akhirnya Ara menjatuhkan bungkus roti itu dan monyet pun berhenti mengejar. Mungkin itu karmanya Ara menabrak anjing malam sebelumnya 😀 Monyet pergi, kami merasa aman dan melanjutkan foto-foto.

Lalu..

JENG JEEEEENGGGGGG

Tibalah gerombolan monyet datang membawa pasukan (Hm… berlebihan sih)

Dengan hati yang cukup senewen karena takut dikerubungi monyet, kami meninggalkan Bukit Merese kembali ke penginapan.

Sekitar pukul 10 kami lanjut jalan ke Pantai Mawun, sebuah pantai yang terletak masih di bagian selatan Pulau Lombok. Langit sangat cerah, dan Pantai Mawun terlihat sangat indah siang itu. Pasirnya putih, lautnya biru toska, langitnya biru cerah, dikelilingi bukit hijau. Saat kami datang, di sana tidak terlalu ramai, namun banyak ibu-ibu yang menjajakan tenda langsung mengerubungi kami. Kami menyewa 2 tenda seharga 120.000 sudah termasuk 6 kelapa muda.

Ah.. Life’s good (bukan promo alat elektronik, tidak dibayar)

Ara dan Fiqrie tidak tahan melihat birunya laut sehingga memutuskan untuk menceburkan diri ke air. Diego tidak tahan melihat matahari yang hangat menyinari kami sehingga memutuskan untuk berjemur. Saya sendiri hanya menceburkan kaki dan menikmati indahnya bertelanjang kaki di pasir.

IMG-20170326-WA0019-1IMG-20170326-WA0022IMG-20170331-WA0015IMG-20170331-WA0016

IMG-20170331-WA0017
Hahah Ara. Most of these are taken by Fiqrie.

Sekitar 2 jam kemudian cerahnya langit mulai tertutup awan, sehingga pantainya tidak secerah ketika kami datang tadi.

20170325_114127

Selain itu lapar juga membuat kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Kami makan di restoran bernama RM Cahaya di dekat bandara, tempat Ciki, Fiqrie, dan Ara menunggu kami sampai di Lombok. Entah kami yang lapar atau memang makanannya enak, tapi kami semua nambah 1 porsi lagi. Recommended 🙂

20170325_135433

Lombok masih luas, kami lanjut jalan ke Desa Sade, sebuah desa pelestarian suku Sasak. Ara dan Ari terlalu lelah untuk mengeksplor Desa Sade. Di sana, kami langsung dihampiri seorang guide yang masih muda dan menjelaskan secara singkat adat dan kebiasaan suku Sasak. Yang paling popular mungkin adalah tradisi kawin larinya. Saat si cowok ingin menikahi si cewek, si cowok menculik si cewek selama sehari, baru dikembalikan ke orang tua. Kalau di Jakarta mungkin orang tua sudah telepon polisi :p

Oh iya, secara resmi tidak dipungut biaya untuk menjelajahi Desa Sade, namun ada kotak donasi, warung pernak-pernik, dan tour guide yang sukarela mendatangi. Jadi kami mengeluarkan uang donasi seikhlasnya, belanja, dan tip untuk sang guide.

Banyak hal unik yang kami temukan di sana. Salah satunya adalah rumah-rumah di sana secara berkala dipel dengan kotoran kerbau. Katanya awalnya memang bau, tapi lama-lama hilang baunya. Konon dengan kotoran kerbau, suhu di rumah akan tetap stabil dan sejuk. Kami harus bertelanjang kaki di sana 😮 Rumahnya dibuat 2 tingkat dengan pintu yang pendek, dibuat agar si tamu menundukkan kepala ketika masuk rumah untuk menghormati tuan rumah. Saat itu sedang mati lampu, sehingga rumahnya cukup gelap.

IMG-20170327-WA0005

Di sana ada beberapa toko pernak-pernik yang dijadikan spot untuk para turis belajar menenun kain. Di Sade, perempuan yang sudah bisa menenun dianggap sudah dewasa dan sudah bisa menanggung beban rumah tangga. Saya coba pelajari, kok rasanya rumit juga ya.. Ah mungkin belum bisa menanggung beban rumah tangga hehehe..

Tips: Di sana, kamu juga harus belajar sabar dan tidak gegabah. Kalau lihat toko pernak-pernik atau kain, jangan langsung tergoda untuk beli, karena semakin ke dalam, harga souvenir semakin murah. Diego dan Ciki sempat beli gelang dengan harga Rp10.000 per gelang, semakin ke dalam kamu akan menemukan gelang yang sama dengan harga Rp10.000 per tiga gelang!

Matur Tampiasi, Sade!

IMG-20170325-WA0008

Hari sudah mulai sore, dan kami memutuskan untuk lanjut jalan ke kota Mataram, ibukota Nusa Tenggara Barat. Perjalanan cukup panjang dan saat itu hujan deras hampir sepanjang jalan. Saya tidak terlalu memperhatikan jalan karena cukup lelah dan banyak tidur. Yang saya ingat, perjalanan ke Mataram dari desa Sade menghabiskan waktu sekitar 1-2 jam. Kami tiba di Mataram sekitar pukul 17.00. Diego ingin beli buku, dan cukup sulit menemukan toko buku yang besar di sana. Sepenglihatan saya, kota Mataram cukup nyaman, karena kotanya besar namun tidak terlalu banyak pembangunan berlebihan dan tidak macet. Udaranya juga sejuk, ditambah sehabis hujan. Bangun tidur, habis hujan, udara sejuk, sudah mulai malam, perut mulai menggerutu. LAPAR!

Setelah browsing-browsing, kami menemukan franchise makanan Lombok yang cukup tenar, Taliwang Irama. Di sana kami pilih paketan ayam bakar taliwang. Karena Lombok terkenal dengan lomboknya (cabai), jadi makanan di sana rata-rata pedas. Saya pilih menu yang tidak pedas. Setelah dicoba ternyata masih pedas juga! Tapi meskipun pedas, rasanya enak banget kok.

20170325_190554

Kami memilih tempat berbentuk gazebo, jadinya kami bisa santai selonjoran tiduran, bahkan ada wacana untuk stay dan tidur di sana sampai restoran tutup. Namun kami rasa perjalanan masih panjang, jadi kami memutuskan untuk lanjut jalan ke daerah pelabuhan Pamenang untuk kemudian istirahat di daerah sana. Di perjalanan menuju pelabuhan, kami singgah di daerah yang cukup ramai wisatawan asing, nama daerahnya Senggigi (thank you Fiqrie udah ngingetin). Dimana banyak wisatawan asing, di sana banyak bar dan restoran. Ada satu bar yang cukup menarik perhatian karena sangat ramai dan musiknya sangat keras. Saat itu saya sudah lelah di perjalanan, sehingga tidak ingin berada di pusat keramaian. Kami lalu istirahat di bar lain yang lebih sepi dan saat itu live musicnya berupa band menyanyikan lagu-lagu lawas, bukan DJ yang musiknya memekakkan telinga. Setelah isi tenaga, kami lanjut lagi jalan ke Pelabuhan Pamenang untuk kemudian nyebrang ke Gili Trawangan.

Saat itu sudah malam, sehingga saya banyak tidur di jalan menuju pelabuhan. Saya tidak tahu pasti berapa waktu yang ditempuh untuk ke pelabuhan. Saat saya bangun, kami sudah parkir di pelabuhan. Kami memang memutuskan untuk bermalam di pelabuhan saja, seperti tahun lalu. Entah kenapa, kami tidak berpikir untuk menginap di hotel, padahal bisa saja kami menyewa kamar penginapan yang murah untuk malam itu saja. Nanti kalau kamu ke sana, saya sarankan untuk tidur di penginapan daripada tidur di lantai pelabuhan (seperti tahun lalu) atau di mobil (seperti saat ini).

Minggu, 26 Maret 2017

Sekitar satu jam menjelang subuh, saya putuskan untuk keluar mobil karena tidak betah di dalam, dan memutuskan untuk melihat laut yang gelap, dan saat subuh menjelang, kami putuskan untuk ke masjid, untuk sholat subuh dan ke toilet (karena Ari kebelet buang hajat). Tidak disangka, hampir semua masjid di sana sedang direnovasi dan tidak ada toilet. Muka Ari semakin membiru setiap menitnya (gak deng), jadi kami mampir di kantor polisi untuk numpang menyelesaikan acaranya. Uhh, I wish I was there inside the police station to see how Ari begged to an officer. Dan menurut Ari, untuk ke toilet, kita harus melewati penjara, dan saat itu sedang ada yang dipenjara. Hahahahahaha kebayang mukanya Ari risih sepanjang waktu di sana. Saya pun ke toilet rumah warga sekitar yang saya temui di masjid. Legaaaa rasanya…

Pagi menjelang dengan cepat, dan sudah saatnya kami naik boat ke Gili Trawangan. Yaaah, namanya juga geng penuh drama, bukan tanpa drama kami menyebrang ke Gili. Kami beli tiket untuk kloter pertama, namun karena tidak dengar perahu berangkat dan/atau ketiduran, kami ketinggalan dan harus beli tiket lagi untuk kloter kedua. Huft. Untunglah tidak terlalu lama, hanya seling sekitar sejam. Off we go to Gili Trawangan!

IMG-20170326-WA0001

Sekitar 20-30 menit, kami tiba di Gili Trawangan sekitar pukul 9 dan eng ing eng!!! Kami disambut awan mendung, di perjalanan ke penginapan kami ditemani gerimis, dan sampai di penginapan langsung hujan besar! You know that heavy rain is every beach travelers’ nightmare, right? Bayangan untuk snorkeling siang itu langsung buyar… Kami masuk ke kamar masing-masing, unpack, dan tiduran, berharap hujan segera turun. Penginapan kami bernama Sahara Sands, isinya ada 3 kamar dan 1 pantry sekaligus ruang tamu. 2 kamar di bawah, 1 kamar di atas plus balkon. Karena kami pesan 3 kamar, jadi penginapan itu serasa private. Penginapannya sangat cantik, tidak mahal, dan tidak terlalu jauh dari pelabuhan! Recommended!

20170326_101451Processed with VSCO

Sempat tertidur sebentar, ternyata pukul 12 hujan sudah berhenti dan kami langsung sibuk siap-siap mencari jasa snorkeling (kecuali Diego, yang memilih melanjutkan tidurnya saat itu). Tidak jauh dari penginapan, kami ditawarkan private boat yang setelah dihitung cukup murah mengingat yang ditawarkan “private”. Dengan Rp650.000, tidak ada orang lain seperti tahun lalu saat saya snorkeling di Gili Trawangan. Saat itu udara tidak panas, yang berarti cuaca yang pas untuk berenang, tapi karena tidak cerah, berarti jarak pandang di bawah laut juga kurang begitu dalam. Bagaimanapun, kami cukup puas bisa berenang di laut sekitar 2 jam, mengingat sebelumnya hujan.

Awalnya kami berrencana untuk melihat sunset di sunset beach, namun karena satu dan lain hal tidak jadi. Malamnya, kami keluar lagi untuk makan dan jalan-jalan. Saat itu sedang ada perombakan besar-besaran tempat nongkrong di sisi pantai, sehingga tidak banyak tempat makan di pinggir pantai. Kami kembali ke tempat pizza yang kami datangi tahun lalu di sebelah Le Petit Gili, Little Italy, yang juga menyediakan Gili Gelato. Tanpa disadar, ternyata kami pesan makanan contains pork, saya pesan 2 makanan dan dua-duanya ada porknya. Hmmm sudah terlanjur habis.

IMG-20170326-WA0036
Contains pork! Taken by Fiqrie
Processed with VSCO
Ara, saya, Ari, Ciki, Diego, Fiqrie

Coba lain kali kamu tanya dulu apakah makanannya mengandung pork atau bukan. Kami di sana cukup lama mengobrol sehingga tidak sadar kalau saat itu sudah gerimis dan tak lama hujan deras (lagi)! Rencana jalan-jalan mengelilingi Gili Trawangan pun buyar (lagi!). Dengan berlindung plastik kresek, kami kembali ke penginapan melewati genangan air cukup tinggi (mendekati banjir semata kaki). Ari-Ara didapuk beli air minum dan kartu. Meskipun sempat nyasar dan kebanjiran, mereka kembali dengan selamat ke penginapan. Kami habiskan sisa malam itu dengan main kartu di kamar atas (kamar Diego dan Fiqrie).

Senin, 27 Maret 2017

Hari ini hari terakhir kami di Gili Trawangan, dan harus berpisah dengan 3 laki-laki idaman maba di kampus; Ari, Fiqrie, dan Ara, karena mereka harus ada di Jakarta untuk bekerja hari Rabu. Setelah beli tiket boat ke Bali sekitar Rp350.000, kami berpisah. Mereka bertiga kembali ke Lombok untuk jalan-jalan di sana sembari menunggu pesawat (dari perjalanan saat itu mereka rekomendasikan sate rembiga yang katanya enak banget. Jadi penasaran dan harus coba kalau ke sana lagi). Menjelang siang, saya, Ciki, dan Diego menyewa cidomo (sejenis delman) yang SANGAT MAHAL (Rp100.000!) karena sudah pada cukup mager ke pelabuhan jalan kaki. Sekitar pukul 1 kami jalan. Saat itu kami duduk di tempat yang AC nya cukup menyorot, dan berhubung saat itu kipas boat mengalami gangguan, ada sampah nyangkut (SERIOUSLY GUYS, STOP LITTER THE SEA!), boat berhenti dan ombak sedang kencang, saya dan Ciki mengalami mabuk laut akut. Saya ingin ke atas boat seperti tahun lalu, tapi karena mabuk laut dan di atas sepertinya ramai, jadi saya dan Ciki pindah ke belakang, mencoba untuk tidur melupakan mabuk laut. Ciki sempat muntah sedikit, tapi saya tidak mau buka mata untuk bantu (Sori Cik :p), takut malah muntah juga. Untung saya cukup cepat terlelap….

Terus…..

To be continued……!

Satu pemikiran pada “Dikejar Monyet, Anjing, dan Hujan di Lombok

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s