East Java

Traveling journal yang akan dipost di sini saya mulai dari perjalanan ke Jawa Timur di awal 2013. Saya baru kepikiran untuk bikin jurnal perjalanan tahun 2013, jadi perjalanan saya selama 1991-2012 belum ada versi jurnalnya – meskipun selama 2013 ada beberapa perjalanan yang saya tidak tulis di jurnal karena lupa. Oke alasan macam apa ini.

Anyway.

The heroes of the story:

  • Medina Basaib
  • Cinta Rutatiko
  • Diego Christian
  • Rizky Aisis Pattynama
  • Ahmad Faisal Bachrawi
  • Adiba
  • Malik Ganis Ilman

30 Januari 2013. Saya, Cinta, Diego, Aisis, Isal dan Diba kumpul di stasiun Senen untuk mengejar kereta Matarmaja tujuan Malang (dari stasiun UI ke Gondangdia, lanjut Kopaja P-20 jurusan Senen). Harga tiket Matarmaja saat itu Rp51.000,00. Di jadwal, kereta seharusnya berangkat jam 2 siang dan sampai di Malang besok paginya, jam 7.45. Well, namanya juga Indonesia, kereta baru datang jam 4 sore. We’re off to Malang!

image

31 Januari 2013. Setelah perjalanan yang membuat bokong dan punggung lelah, kami sampai di Malang jam 14.30. Dari stasiun Malang, kami naik angkot menuju terminal untuk selanjutnya naik bus menuju Probolinggo. Perjalanan bus AC (Rp23.000,00) memakan waktu sekitar 3 jam, lalu istirahat sebentar sambil menunggu rombongan lain untuk ikut patungan menyewa mobil ELF yang cukup untuk 15 orang. Dari Probolinggo ke desa dekat Bromo sekitar 1 jam, kami masih harus cari penginapan patungan bersama satu rombongan lain yang ternyata anak UI juga (Rp80.000,00). Sampai di sana, saya terpesona dengan banyaknya bintang yang begitu jelas terlihat. Tidak bisa ditemukan di Jakarta atau kota besar lainnya. Sudah begitu lama tidak melihat pemandangan seperti itu. Semoga itu pertanda bahwa esok hari akan cerah 🙂

Oke jadi seharian itu kami habiskan hanya untuk perjalanan saja.

1 Februari 2013. Pukul 3.30 kami berangkat ke Pananjakan, menyewa jeep. Dingin. Beberapa hari yang lalu teman-teman kami gagal melihat sunrise dan gagal naik ke Bromo karena hujan selama berhari-hari. Maklum, bulan Januari-Februari. Alhamdulillah, kami diberi kesempatan untuk melihat sunrise dan hari itu udara cerah sekali. Bagi saya, itu kedua kalinya saya bertemu Bromo.

image

image

Setelah turun dari Pananjakan, kami naik ke Bromo. Lalu setelah puas memandang keindahan goresan tangan Tuhan, somay, kami ke savana yang dikenal dengan nama Taman Teletubbies, karena banyak bukit hijau seperti di dunia Teletubbies.

Sepulangnya dari Bromo, kami kembali ke Probolinggo untuk meneruskan perjalanan ke Surabaya. Dari Probolinggo ke Terminal Bungurasih (perbatasan antara Sidoarjo dan Surabaya) sekitar 3 sampai 4 jam. Di Surabaya, hal yang pertama kali kami lakukan — OFF TO THE INFAMOUS GANG DOLLY (pronounced to be WAS the biggest prostitution center in Southeast Asia)! Mata saya dibuka oleh pemandangan ironis, manis tapi miris. Di sana, wanita terlihat hanya seperti barang yang tertata rapi di etalase.

2 Februari 2013. Di Surabaya, kami istirahat dan menginap di tempat Joni, teman satu jurusan saya. Esoknya, kami istirahat saja di Surabaya, jalan-jalan kaki ke Monumen Kapal Selam dan Tunjungan Plaza bersama seorang kawan kampus yang berasal dari Surabaya, Fiqrie.

3 Februari 2013. Kami ikut rombongan Couchsurfing Surabaya ke Madura (biaya perjalanan Rp30.000,00 dibayarkan ke salah seorang panitia). Kami berkumpul di Stasiun Gubeng, dan dari Stasiun Gubeng kami naik ELF ke Madura. Kami melewati jembatan Suramadu yang ternyata hanya 4km. Saya sendiri merasa cukup beruntung bisa melewati jembatan Suramadu dengan selamat, karena gosipnya besi-besi jembatan itu sering dipotong dan dicuri orang Madura untuk dijual.

Kami ke mercusuar peninggalan Belanda. Di atas, kami bisa melihat lautan lepas. Setelah itu kami ke Air Terjun Toroan, perjalanan memakan waktu 2 jam dari mercusuar. Perjalanan kami di Madura diakhiri dengan pergi ke Pulau Ajaeb yang konon baru muncul secara tiba-tiba di bulan Januari 2013.

image

image

4 Februari 2013. Kami ke Batu, dekat Malang, dengan menyewa mobil beserta supirnya. Sampai di Batu, tepatnya Jatim Park 2, kami langsung beli tiket terusan Eco Green Park, Batu Secret Zoo, dan Museum Satwa (Rp80.000,00). Satu kata. Amazing.

image

5 Februari 2013. Kami harus pulang ke Jakarta. Kami ke stasiun Gubeng, naik kereta ekonomi AC bernama Gaya Baru (Rp155.000,00). Dari Surabaya ke Jakarta perjalanan sekitar 17 jam. We’re back, Jakarta!

Things I learn from this trip:

  • Kita bisa melihat sifat asli seseorang ketika melakukan perjalanan melelahkan.
  • Kita harus selalu berinteraksi dengan orang sekitar, siapa tahu bisa mendapat keuntungan, misalnya lebih murah, atau penginapan gratis.
  • Jangan bawa masalah pribadi ketika berrencana untuk bersenang-senang.

Signature food I’ve tried:

  • Tahu tek-tek: Tahu setengah matang, lontong, kentang, disiram bumbu petis, bawang putih, kacang, cabai, ditambah kerupuk udang. Enak, tapi abis itu mulut kita jadi berasa bawang putih untuk beberapa waktu.
  • Rujak cingur: Mirip tahu tek-tek, tapi bahan utama yang digunakan bukan tahu, melainkan cingur atau hidung sapi. Not my thing. I don’t like this dish at all, plus, it’s made from cow’s nose!
  • Bebek Sinjai: Bebek goreng paling terkenal di Madura, restoran besar yang terletak di Bangkalan ini selalu penuh. Mungkin bebek yang paling enak yang pernah saya makan. Mungkin karena saat itu saya lapar. Mungkin karena memang seenak itu.

What I think about this trip:

  • FUN!

Cheers,

Medina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s