Dieng, Central Java

So long as the memory of certain beloved friends lives in my heart, I shall say that life is good.” – Helen Keller

Sebut saja, “Liburan singkat. Melepas penat.”

The heroes of the story:

  • Medina Basaib
  • MM Ari Dewayanti
  • Diego Christian
  • Geng TamasYeah! (Sekitar 15 orang)

Juli 2014kriiing.. (anggap saja ringtone). Med, Diego nih. Udah baca whatsapp gue? Dieng yuk, 30-31 Agustus! Ada Dieng Culture Fest. Sama Ari. Ikutan rombongan gitu, bayar 680ribu. Mereka udah penuh 20 orang, tapi ada yang batalin 3, jadi kursinya tinggal 3. Kalau mau, gue bilang mbaknya sekarang.

Cuss..

29 Agustus 2014. Ada yang lucu dari awal perjalanan ini. Lucu, mengesalkan. Jumat ini saya harus kerja dulu, live report di Senayan, pukul 12 siang. Oke tidak masalah, bis ke Wonosobo berangkat pukul 5 dari Pasar Minggu.

Whatsapp: Med, kata Mbaknya bisnya jam 4 dari Rawa Bambu, pool bis Sinar Jaya. – Diego

Where the heck is Rawa Bambu?

Tik. Tok. Tik. Tok.

Jam 2 masih di Senayan.

Tik. Tok. Tik. Tok.

Jam 3 sampai kantor. Langsung pergi? Noooo, Medina.. Ngurus ini itu dulu..

Whatsapp: Med, dimana? Udah jalan?

Tik. Tok. Tik. Tok.

Setengah 4. Goodbye, everybody! I’ve got to go! – Bohemian Rhapsody, Queen

OJEK! Pasar Minggu! 70ribu ya Mbak. Asu. OKE! (biar cepet)

TIK! TOK! TIK! TOK!

“Med, dimana?” “Med, bisnya udah mau jalan” “Med, bales whatsapp please” “Med, gue udah berantem sama supirnya” “Med, bisnya udah jalan. Gue udah gak bisa apa-apa.”

Sampe Rawa Bambu, yang ternyata cuma sejengkal dari Pasar Minggu.

“Mbak, yang cewek rombongan tadi ya? Itu bisnya baru jalan, itu keliatan, lagi muter balik mau masuk terowongan! Susul aja!”

Singkat cerita, kesusul. Masuk bis Sinar Jaya. Muka jutek mode: ON! Karena bis itu juga untuk umum, bukan hanya rombongan TamasYeah!, jadi harus pergi tepat waktu.

Perjalanan berlanjut..

30 Agustus 2014. Pukul 5 kami sampai Wonosobo. Duduk manis di terminal Mendolo, nunggu dijemput angkutan ke Dieng.

image

Jam 7, angkutan datang. Dieng, here we come! Sampai Dieng, kami ke penginapan bernama “ASRI”, makan pagi, istirahat (saya tidak mandi, dingin sekali airnya!), lalu pergi ke sekitaran Dieng.

Destinasi pertama. Kawah Candradimuka. Dieng merupakan kawasan vulkanik aktif. Di sana terdapat banyak tambang uap panas vulkanik yang nantinya akan jadi tenaga listrik. Di Dieng juga banyak sekali kawah belerang aktif, salah satunya Kawah Candradimuka.

image

image

image

Dari Kawah Candradimuka, kami ke Sumur Jalatunda. Tebing penuh tumbuhan, yang di bawahnya terdapat telaga coklat kekuningan. Konon jika kita bisa melempar 3 batu ke sumur itu, permohonan akan dikabulkan. I did it!

image

 

image

Kami melewati Telaga Merdada, telaga terbesar di Dieng, namun karena kondisi telaga sedang tidak terrawat, kami hanya melewatinya. Destinasi selanjutnya, Telaga Warna. Untuk melihat pemandangan alamnya, kami naik bukit dulu. Telaga Warna terdiri dari 2 telaga yang warnanya berbeda, satu toska, satu coklat. Kedua telaga ini hanya dipisahkan oleh rawa-rawa, namun bisa berbeda warna. Pemandangan dari atas sangat indah. Kami di sana sore-sore, sehingga pemandangannya tambah indah dengan sinar matahari yang akan tenggelam.

image

image

image

Kami turun saat adzan maghrib, langsung menuju theater yang isinya semacam bioskop mini yang memutar klip tentang kondisi alam Dieng.

Malam tiba, udara dingin mulai menjalar tubuh. Ada yang paling saya tunggu di malam hari. Bukan acara Dieng Culture Fest. Bukan makan malam. Tapi Bintang. Entah kenapa, saya selalu mematung jika melihat bintang, apalagi jika bintangnya banyak sekali, memenuhi langit. Sebagian orang sudah masuk mini bus (saya menyebutnya mini metro mini), sebagian masih di luar bercengkrama, saya berdiri sendiri mematung melihat bintang. Indah.

Kami mampir di tempat oleh-oleh. Pertama kalinya saya merasakan manisan Carica, buah yang katanya hanya tumbuh di dataran tinggi, dan di Jawa hanya di Dieng. C’est magnifique!

Dari tempat oleh-oleh, kami berrencana untuk ke Dieng Culture Fest. Kami sudah dapat goodie bag yang isinya:

image

Lampion, tiket VIP, kaos, sarung batik, jagung, dan itinerary.

Bukan Medina kalau tidak ceroboh. Tiket VIP saya ketinggalan. Hanya saya yang ketinggalan. Setelah berrembuk, rombongan memutuskan untuk kembali ke penginapan, dengan argumen “dari penginapan ke tempat acaranya dekat kok, bisa jalan kaki”, “mau naro oleh-oleh dulu“. So much win 😉

Setelah makan malam, kami pergi ke kawasan Candi Arjuna, tempat Dieng Culture Fest diadakan. Ketika kami sampai di sana, kami langsung membakar lampion dengan syahdu. Lagi-lagi, saya terpukau. Di sini bintangnya tidak sebanyak di gunung tadi, tapi lampion-lampion yang terbang cukup membayarnya.

image

image

And at last I see the light
And it’s like the fog has lifted
And at last I see the light
And it’s like the sky is new
And it’s warm and real and bright
And the world has somehow shifted
All at once everything looks different
Now that I see you

– I See The Light, OST Tangled

Setelah itu ada pertunjukan kembang api yang membuat seluruh orang terpana. Jujur, baru kali itu saya melihat pertunjukan kembang api semewah itu. Mungkin biayanya ratusan juta.

Pertunjukan kembang api selesai. Saatnya kami ke pertunjukan bertajuk “Jazz di Atas Awan”. Konsepnya sangat menarik. Namun tidak seperti yang saya harapkan. Terlalu ramai. Pengunjung masih “barbar”. Rombongan kami terpisah. Sebagian memutuskan untuk pulang. Saya memutuskan untuk pulang. Kecewa. Udara kian menusuk.

Benar kata orang. Di Jakarta, udara panas. Orang masuk ke supermarket untuk mendinginkan badan. Di Dieng, udara menusuk. Orang masuk ke supermarket untuk menghangatkan badan.

31 Agustus 2014. Pagi buta. Pukul 3. Kami siap-siap untuk mendaki bukit Sikunir untuk melihat sunrise. Udara tidak pernah sedingin itu. Berapa lapis baju yang saya pakai? Tank top, kaos, kaos panjang, sweater tipis, dan cardigan wol. Legging, baru jeans. Syal tipis. Sarung tangan. Masih dingin 🙂

Sepertinya yang mendaki Sikunir pagi itu ratusan juta orang. Padat. Sesampainya di atas kami sudah tidak terlalu  nafsu untuk foto-foto di Sikunir dengan pemandangannya, karena lautan manusia itu. Tibalah matahari.

image

image

^ Syal tipis saya jadikan bandana untuk menutup telinga yang kedinginan.

Oke! Ini saatnya saya mulai mendengarkan Sigur Ros, seperti janji saja kepada diri saya sendiri. Memandangi keindahan alam, bersyukur pada Tuhan, dimulai.. Ágætis Byrjun dan Ára Bátur, dimulai..

image

Turun dari Sikunir butuh usaha. Bukan karena susah. Karena saat itu penuh manusia, sedangkan jalannya kecil. Dalam hati, saya berjanji, “ini adalah liburan mainstream saya yang terakhir. Dieng, saya akan kembali lagi, jika tidak sedang ada acara atau festival di Dieng”.

Kembali ke penginapan, SAYA MANDI! Tidak kuat dengan keadaan belum mandi, saya memberanikan diri untuk mandi menggunakan air es Dieng. Istilahnya, saya melakukan Ice Bucket Challenge yang saat itu sedang populer di kalangan selebriti Hollywood. Baru kali itu saya keramas hingga kepala sakit. Baru kali itu saya mandi hingga mengeluarkan asap dari mulut.

Acara bebas, kami bisa terus mengikuti upacara pemotongan rambut gimbal khas Dieng (di Dieng, ada beberapa anak yang terlahir dengan rambut gimbal. Untuk membuangnya, harus dilakukan upacara sendiri). Saya, Ari, dan Diego jadi kurang berminat melihatnya karena sangat ramai. Kami kehilangan selera. Akhirnya kami jalan-jalan keluar sendiri, mencoba beberapa macam kuliner yang belum sempat kami coba.

Pukul 2, kami bersiap-siap untuk kembali ke terminal Mendolo di Wonosobo untuk pulang.

image

Terima kasih Dieng! Sampai berjumpa di lain waktu, ketika kamu tidak begitu ramai!

Things I’ve learned from this trip:

  • Pastikan jadwal keberangkatan!
  • Double-check is a must! Gak mau dong, ada yang ketinggalan terus..
  • Nggak lagi deh liburan mainstream
  • Kayanya enakan jalan sendiri, gak sama paket rombongan. Meskipun enaknya udah diurusin, tapi jadi kurang bebas dalam segi itinerary.

Signature food I’ve tried:

  • Bakso Kupat: Di Dieng, bakso juga pake kupat. Enak!
    image

  • Crispy things: Jamur crispy, kentang crispy, bayam crispy. My favorite one is the crispy mushroom.
  • Carica: Buah khas Dieng. Belum coba buah aslinya, yang katanya lebih asam dari manisannya (DUH!), tapi manisannya enakkkk segar!
  • Cimol telur puyuh: Jajanan anak SD. Jadi cimol pipih dicelup ke telur puyuh kocok, digoreng sebentar, voila!
    image

  • Mie Ongklok. Mas guide bilang, mie ongklok paling enak di Wonosobo. Di Dieng, rasanya kurang enak dibanding di Wonosobo. Totally agree. Never tried the Wonosobo version, though.. But I think this Dieng version of Mie Ongklok is not really good, it’s pretty plain. Must add a pinch of salt.
    image

  • Es Duren: Ada yang beda dengan es duren Dieng. Di Jakarta mungkin es duren hanya ditambah susu dan es. Namun di Dieng, ditambah pacar cina, ketan, cendol, dan susu coklat. Mungkin es duren terenak yang pernah saya makan.

What I think about this trip:

  • Lagi-lagi, saya tekankan, saya tidak akan liburan mainstream lagi. Setidaknya dalam waktu dekat ini.

Can’t wait for the next trip,

Cheers!

Medina

image

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s