Cambodia + Singapore

And so, the story continues…

The heroes of the story:

  • Medina Basaib
  • MM Ari Dewayanti
  • Chaeranny Rilinovia
  • Rizky Aisis Pattynama
  • Ilham Krismansyah
  • Lukmanul Hakim

22 Agustus 2013. Pagi jam 6 kami keluar hotel, check out, berjumpa dengan taksi yang menawarkan kami ke Aranyaprathet, perbatasan Thailand dan Kamboja. Awalnya kami ingin naik bus untuk langsung ke Siem Reap, namun karena tidak bisa dadakan, kami terpaksa harus menerima jasa Bapak itu – dia baik sekali 🙂

Dari Bangkok ke Aranyaprathet memakan waktu sekitar 4 jam, di dekat Aranyaprathet terdapat pemeriksaan paspor berkali-kali. Untung ada Bapak yang mengantar kami, yang bisa berkomunikasi dengan petugas-petugas galak itu. Di Aranyaprathet akhirnya kami berpisah dengan Bapak supir, lalu kami masuk Poipet, wilayah perbatasan Thailand dengan Kamboja versi Kamboja. Di Poipet, jangan kaget kalau banyak calo.

Poipet cukup kumuh dan gersang, masuk ke sana bagaikan diburu-buru untuk dievakuasi seakan ada konflik antar negara. Kawat tinggi dimana-mana, imigrasinya kecil di pinggir jalan tertutup tembok, namun seperti barbershop di pinggir jalan.

Masuk ke Poipet kami diantar ke terminal dengan bus gratis oleh pemerintah Kamboja (karena banyak turis terlantar di Poipet maka diadakan bus gratis untuk turis ke terminal bus untuk melanjutkan perjalanan lagi). Sampai di terminal, kami naik minibus ke Siem Reap, dari Poipet ke Siem Reap sekitar 2 jam, termasuk istirahat makan siang.

Akhirnya tiba juga di Siem Reap, kami naik tuk-tuk yang ditawarkan oleh bapak guide tadi, kami memutuskan untuk menyewa tuk-tuk itu selama di Siem Reap. Di Siem Reap kami menginap di Lin Ratanak hotel yang cukup creepy dengan interior antik dan lukisan wanita, ditambah ketika kami sampai di sana hujan badai. Kami dibuat ketakutan, seperti di film. Alhasil, rencana kami untuk pergi ke floating market (yang gagal juga di Thailand karena tidak jadi ke Pattaya) sore itu GAGAL.

Malamnya, oleh Mas Mas Tuk Tuk, kami diajak ke restoran all you can eat yang memang menjadi tempat berkumpul pelancong di Siem Reap, bernama Koulen Restaurant. Dengan $12, kami bisa makan apa saja diiringi pertunjukan tarian-tarian tradisional Kamboja.

Tips: Di Kamboja kita bisa pakai 2 mata uang, Dollar Amerika dan Riel Kamboja. 2 mata uang itu berlaku di mana saja dan bisa dicampur. $1 = sekitar 4.000 Riel. 1 Riel = sekitar Rp3,00.

image

image

Setelah sampai hotel, kami istirahat. Di hotel sempat mati lampu 2 kali. Menambah kesan angker hotel itu. Rupanya di Siem Reap setelah jam 10 malam terjadi pemadaman listrik, kecuali hotel dilengkapi dengan genset.

23 Agustus 2013. Pagi buta. Pukul 4 pagi. Kami bangun untuk mengejar sunrise di Angkor Wat. Diantar Mas Tuk Tuk, melintasi kota Siem Reap yang gelap gulita, kami sampai di Angkor Wat yang jaraknya mungkin hanya 15 menit dari hotel. Syukur, kami sempat melihat matahari terbit dengan Angkor Wat sebagai latarnya.

image

image

Setelah sarapan, kami masuk ke Angkor Wat. Saya tidak tahu pasti apakah dulunya Angkor Wat merupakan tempat kerajaan atau kuil. Yang saya tahu, tempat itu dulu dibangun oleh peradaban Hindu, namun setelah ajaran Buddha masuk, Angkor Wat dijadikan tempat menyembah Buddha. Arsitektur Angkor Wat mirip dengan Candi Prambanan, yang juga dipengaruhi oleh arsitektur Hindu.

image

image

Dari Angkor Wat, kami pindah ke komplek Angkor yang lebih besar lagi, yaitu Angkor Thom. Salah satunya adalah Ta Prohm, tempat shooting Tomb Raider yang menakjubkan dengan adanya pohon-pohon raksasa menimpa bagian candi itu. Namun selebihnya tak ubah layaknya candi-candi di Indonesia.

image

Sekedar informasi, sampai saat ini masih banyak granat aktif di beberapa bagian Kamboja akibat konflik Khmer Merah (seperti PKI di Indonesia). Di gerbang keluar Angkor Thom ada beberapa musisi jalanan yang terkena imbasnya.

Pulang dari Angkor Wat dan Angkor Thom, kami bersiap untuk lanjut jalan ke Phnom Penh. Perjalanan dari Siem Riep sangat berantakan, kami menggunakan minibus bersama rombongan lain juga, sekitar 3 – 4 jam. Sampai di Phnom Penh, kami disambut pemandangan cukup cantik, seperti kota jaman dulu dengan sungai Mekong di sisi kiri, bangunan tua berhias lampu di sisi kanan (saat itu sudah malam). Di Phnom Penh kami menginap di hotel Holiday Villa, sangat dekat dengan Central Market (Phsar Thmei). Seperti di Siem Reap, hotel ini cukup creepy karena terlihat tua. Tidak heran, daerah sekitar memang cukup tua, mirip daerah Gadjah Mada di Jakarta. Seperti di Siem Reap, di Phnom Penh juga pukul 9 malam ke atas sudah tidak begitu banyak aktivitas, meskipun listrik tidak dipadamkan.

24 Agustus 2013. Kami tidak punya banyak waktu di Phnom Penh. Aisis dan Ciki pergi ke museum Khmer Merah, sedangkan saya, Ari, Ilham dan Luki menuju Central Market. Saya tidak suka mengunjungi tempat menyeramkan bekas pembantaian seperti museum Khmer Merah.

Central Market merupakan pasar serba ada, dari bahan makanan sampai perhiasan. Bentuknya melingkar berada di tengah jalan, mungkin maka dari itu dinamakan Central Market.

Tidak lama setelah kembali ke hotel, kami dijemput van kemarin dan diantar ke Phnom Penh International Airport untuk pulang, namun sebelumnya transit di Singapore selama 24 jam. Pesawat yang kami gunakan kali ini adalah Tiger Airways.

Sampai di Singapore pukul 6 sore, kami langsung menuju rumah dinas suami sepupu saya yang kebetulan saat itu menjabat sebagai duta besar RI untuk Singapura di jalan Chatsworth. Setelah melihat Kamboja yang sepertinya ketinggalan, melihat Singapore cukup membuat saya terkagum-kagum dengan kecanggihannya, padahal belum lama sebelum itu saya ke Singapore juga.

Ibarat menjelajahi waktu: Di Thailand, saya merasa di masa kini, di Kamboja saya merasa pergi ke masa lalu, di Singapore saya berada di masa depan. Hahahahaha..

Karena sudah malam, kami tidak bisa pergi ke mana-mana, hanya di Orchard Road saja, makan malam di mall Ngee Ann City yang sudah mau tutup, lalu jalan-jalan sekitar Orchard. Dari Chatsworth Road ke Orchard Road bisa ditempuh dengan jalan kaki saja.

image

25 Agustus 2013. Tiba waktunya kami harus pulang. Sayang kami tidak punya banyak waktu di Singapore, karena sebenarnya banyak yang bisa dikunjungi di Singapore namun saat itu tidak memungkinkan. Siang itu kami berjalan-jalan di sekitar Orchard Road lagi, karena itu tourist attraction yang paling dekat dengan tempat kami menginap di KBRI. Semua orang berbelanja, saya tidak, ya karena duit hampir habis sih.

Rasanya belum afdol kalau ke Singapore tapi tidak foto dengan Merlion statue meskipun hanya dengan versi mininya. Sebelum ke Changi Airport, kami sempatkan foto di Merlion Park.

image

^ rambut saya masih panjang sebelah. Anyway.

image

Kami naik pesawat pukul 6 sore menuju Bandara Soekarno-Hatta, dan sampai pukul 8 di terminal 2. Kami sampai di Jakarta lagi! Kamu tahu hal yang pertama saya lakukan begitu sampai di Jakarta? Mencari mie rebus instan! Karena tidak ada yang mengalahkan nyamannya di rumah sendiri 🙂

Things I’ve learned from this trip:

  • Jangan mendahulukan ego sendiri, dahulukan kepentingan bersama.
  • Prepare your trip!
  • Jangan malu bertanya karena takut tidak bisa berkomunikasi dengan lancar dan jadi bahan tertawaan. Bahasa Inggris mereka juga tidak lancar.

Signature food I’ve tried:

  • Tom kha: sup ayam dengan santan khas Thailand. Rasanya mirip sayur lodeh, versi lebih manisnya.
  • Tom yum: sup pedas asam berisi seafood. YUM! Selama di Jakarta belum pernah makan tom yum seenak di Thailand. Semenjak dari Thailand, saya jadi ketagihan tom yum, meskipun tom yum di Jakarta dan di Thailand beda.
  • Belalang goreng: Need no more explanationCrunchy asin, tapi sakit di lidah ketika digigit.
  • Bubur Thailand: Mirip bubur Indonesia, tapi polos dengan lauk macam-macam bisa dipilih. Too ricey yet too watery with no taste whatsoever. Ugh.
  • Kue-kue Kamboja: Di restoran Koulen ada banyak macam-macam kue yang dibilang khas Kamboja. Tidak ada yang berkesan, namun tidak ada yang buruk.
  • Es krim Orchard: Sandwich es krim potong dengan pilihan roti atau wafel, dengan es krim berbagai macam rasa yang dijual di gerobak sepanjang jalan Orchard. Mau selabil apapun harga dollar, es krim ini selalu seharga S$1. Belum ke Singapore kalau belum coba es krim ini. Menjadi penyegar di panasnya jalanan Orchard.

What I think about this trip:

  • You can say that this trip has taught me a lot. Saya juga suka dengan formasi 6 orang seperti ini.
  • Baru pertama kali saya pergi ke beberapa negara sekaligus, ditambah pengalaman menyebrangi perbatasan di tempat dengan suasana seperti wilayah konflik. SERU!

Sampai bertemu di trip selanjutnya 🙂

Cheers,

Medina

2 pemikiran pada “Cambodia + Singapore

    1. Waaah saya suka banget museum trip, kecuali museum yang punya sejarah hitam seperti museum Khmer merah hehe.. Sayang sekali waktunya benar-benar singkat di sana 😦 Kalau punya rekomendasi tempat lain kabari ya 🙂

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s